Materi Sejarah BAB I Kelas X SMAN 3 Bulik :
Assalamu’alaikum wr.
Wb.
Salam sejahtera bagi
kitas semua.
Selamat datang di blog
saya. Tulisan ini ditunjukan untuk peserta didik saya kelas X di SMA Negeri 3 Bulik, Lamandau,
Kalimantan Tengah.
Bagaimana kabar kalian?
Masih semangat? Sudah siap belajar dunk!!
Pada kesempatan ini
kalian akan mempelajari materi Penjasorkes kelas X Bab I Kehidupan Awal Masyarakat Indonesia Kemudian kalian kerjakan
evaluasi A Pilihan ganda 20 nomor dan B soal essay 5 nomor.
1. Jawaban
pada soal pilihan ganda hanya ditulis a/b/c/d/e secara urut tanpa memberikan
nomor. Contoh : acdaeedbbc
2.
Jawaban pada soal essai ditulis dengan
huruf “ Times New Roman “
Jawaban dikirim ke
email fadepurnomo@gmail.com
tugas dikirim paling lambat taggal 21 Januari 2017 melalui email masing-masing
siswa.
Pada kolom Subjek
ditulis “Nama Siswa spasi BAB I TUGAS
PERTAMA”
Contoh
: ANTO BAB I TUGAS PERTAMA
Selamat Mengerjakan!
KEHIDUPAN AWAL
MASYARAKAT INDONESIA
A. KEBERADAAN AWAL MANUSIA DI BUMI
Pernahkah kamu
merenungkan tentang
awal
keberadaan manusia di muka bumi ini?
Lebih awal mana keberadaannya antara
manusia dengan alam semesta? Bagaimana bentuk fisik manusia yang hidup pada
masa tersebut? Apakah bentuk fisik mereka sama dengan kita sekarang ini?
Bagaimana pola kehidupan yang dikembangkan oleh manusia yang hidup pada zaman
tersebut?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut tentu
akan sangat menarik untuk kita kaji bersama-sama dalam pokok bahasan yang akan
kita uraikan berikut ini.
Keberadaan
alam semesta jauh lebih tua dibandingkan dengan keberadaan manusia. Artinya,
alam semesta ini telah lama ada sebelum manusia mulai menghuni permukaan bumi.
Manusia diperkirakan mulai mendiami bumi ini pada kala Plestosen, sedangkan
menurut usia bumi kala Plestosen merupakan masa yang paling muda. Untuk lebih
jelasnya coba kamu perhatikan bagan di bawah ini!
Pada masa
arkeozoikum, di bumi belum ada tanda-tanda kehidupan. Bumi ini masih merupakan
gas yang panas sehingga tidak memungkinkan untuk makhluk hidup dapat bertahan
hidup dalam kondisi alam seperti itu. Lama kelamaan akhirnya temperatur gas
tersebut akhirnya mulai menurun dan sebagian mulai mengeras membentuk kerak
bumi.
Masa
palaeozoikum disebut juga sebagai zaman kehidupan purba karena pada masa ini
diperkirakan mulai adanya makhluk hidup di bumi ini. Makhluk hidup yang ada
pada masa ini masih sangat primitif . Diperkirakan makhluk yang hidup pada masa
ini adalah makhluk bersel satu dan masih sangat sederhana.
Masa
mesozoikum disebut juga dengan zaman kehidupan madya. Masa ini merupakan fase
kedua dari keberadaan makhluk hidup. Pada masa ini diperkirakan mulai hidup
binatang-binatang amphibi dan reptil. Binatang-binatang yang berukuran besar
seperti dinosaurus, tyranosaurus, dan sejenisnya, hidup pada masa ini sehingga
masa ini dikenal dengan sebutan zaman jura. Manusia diperkirakan belum ada pada
masa ini karena kondisi alamnya belum memungkinkan untuk manusia dapat bertahan
hidup. Coba kamu bayangkan bagaimana kalau manusia sudah ada pada masa ini dan
harus hidup berdampingan dengan makhluk-makhluk lain yang memiliki ukuran tubuh
yang sangat besar!
Masa
kenozoikum dikenal juga dengan zaman kehidupan muda karena merupakan masa
termuda dalam usia bumi dan masih berlaku sampai sekarang ini. Masa kenozoikum
terbagi dalam dua zaman, yaitu zaman tersier dan zaman kwarter. Pada zaman
tersier diperkirakan mulai muncul jenis-jenis binatang baru yang merupakan
jenis binatang mamalia. Binatang-binatang berukuran besar lambat laun mulai
mengalami kepunahan pada zaman ini.
Namun pada zaman ini diperkirakan manusia belum ada. Keberadaan
manusia baru muncul pada zaman kwarter. Hal ini dibuktikan dengan ditemukannya
fosil-fosil manusia yang setelah diperkirakan usianya berada pada kala
plestosen. Pada plestosen awal ditemukan fosil pithecanthropus mojokertensis
yang usianya diperkirakan 1,9 juta tahun. Fosil meganthropus paleojavanicus
yang ditemukan di daerah Sangiran usianya antara 2 sampai 1 juta tahun juga
diperkirakan hidup pada zaman kwarter pada kala plestosen awal.
Pada masa
awal kehidupan manusia, mereka harus menghadapi kondisi alam yang sangat berat.
Pada kala plestosen, keadaan bumi belum stabil ditandai dengan sering
terjadinya perubahan fisik, yaitu perubahan gerakan bumi baik yang menurun atau
pun mengangkat. Pada kala plestosen terjadi tujuh kali perubahan, yaitu empat
kali zaman glasial dan tiga kali zaman interglasial.
Holosen (aluvium)
Zaman Glasial IV 118 –
10.000
Interglasial
Glasial
III 230 – 180.000
Plestosen
(diluvium) Interglasial
Glasial
II 480 – 420.000
Interglasial
Glasial
I 600 –
500.000
Peristiwa-peristiwa
alam yang terjadi pada masa plestosen merupakan tantangan yang sangat berat
yang harus dihadapi oleh manusia pada saat itu. Dengan kemampuannya yang masih
sangat terbatas, manusia berusaha mempertahankan hidupnya dengan berbagai akal
menghadapi tantangan alam dan berusaha mencari makan dengan alat-alat yang
masih sangat sederhana. Iklim yang sangat dingin yang terjadi pada masa glasial
merupakan salah satu tantangan alam yang memaksa manusia dan hewan berpindah
tempat menuju daerah yang iklimnya lebih cocok untuk mereka. Diduga pada masa
glasial makhluk-makhluk hidup berpindah atau bermigrasi dari tempat asalnya.
Selain didorong untuk mencari iklim yang lebih cocok juga dorongan yang sangat
kuat adalah mencari daerah sumber persediaan makanan. Hal ini dikarenakan
manusia yang hidup pada masa tersebut masih tergantung pada alam. Apabila alam
tempat mereka telah tidak mampu memberikan persediaan makanan maka mereka akan
meninggalkan tempat tersebut dan mencari lagi daerah yang masih bisa memberikan
penghidupan pada mereka.
Manusia
pada masa ini harus mampu menyesuaikan diri dengan kondisi alam. Jika mereka
tidak mampu untuk menyesuaikan diri dengan lingkungan hidup sekitarnya maka
ancaman kepunahan akan terjadi. Mereka yang mampu bertahan hidup tentu akan
sanggup untuk melanjutkan kehidupan dan melahirkan generasi penerus. Kemampuan
untuk mempertahankan diri terutama dalam menyesuaikan terhadap kondisi alam
yang terus berubah serta kemampuan dalam memperoleh makanan untuk kelangsungan
hidup menyebabkan terjadinya perubahan fisik. Hal ini terjadi baik pada
binatang, tumbuhan dan juga manusia. Secara perlahan-lahan bentuk fisik manusia
mengalami perubahan sehingga mencapai bentuk seperti kita sekarang ini.
memecahkan
tantangan alam yang dihadapinya. Sedangkan binatang, dalam menghadapi tantangan
cenderung melakukan adaptasi secara fisik. Misalnya di daerah yang beriklim
dingin binatang memiliki kulit yang tebal, di dalam air binatang memiliki sirip
dan insang untuk bernapas, dan yang lainnya. Binatang yang tidak mampu
beradaptasi dengan alam cenderung akan punah.
Adaptasi yang dilakukan
oleh manusia dalam berinteraksi dengan tantangan alam, lebih banyak menggunakan
akal. Manusia dengan akal yang dimilikinya, mencoba berpikir bagaimana
memecahkan tantangan hidup yang dihadapi yang disebabkan oleh kondisi alam. Jawaban
yang dilakukan oleh manusia dalam menghadapi tantangan tersebut, yaitu dengan
menciptakan berbagai peralatan hidup. Manusia secara fisik tidak melakukan
adaptasi seperti yang terjadi pada binatang. Perkembangan yang terjadi justru
pada alat-alat kehidupan yang digunakan. Dari zaman ke zaman, peralatan
kehidupan
manusia berkembangan. Perkembangan itu terjadi, mulai dari yang
sederhana hingga yang kompleks. Perubahan terjadi mulai dari bahan yang
digunakan hingga pada bentuk, misalnya mulai dari bahan yang menggunakan batu,
tulang, kayu, hingga logam dan besi. Dari segi bentuk, mulai dari yang kasar
hingga yang halus, mulai dari bentuk hiasan yang sederhana hingga menjadi
hiasan yang indah. Peralatan-peralatan yang diciptakan oleh manusia merupakan
hasil kebudayaannya.
Perkembangan
kehidupan manusia, terjadi bukan hanya pada hubungan manusia dengan lingkungan
alam. Interaksi di antara sesama manusia mengalami perkembangan pula. Interaksi
ini terjadi disebabkan oleh adanya saling membutuhkan di antara
individu-individu, karena secara fitrahnya manusia merupakan makhluk sosial.
Tidak ada manusia yang bisa hidup sendiri. Interaksi manusia akan melahirkan
bentuk kehidupan sosial, ekonomi, dan keluarga.
Kebutuhan
yang menjadi dasar hubungan antarmanusia dapat berupa kebutuhan yang bersifat
materi maupun nonmateri. Kebutuhan nonmateri, misalnya kebutuhan biologis.
Hubungan manusia yang berdasar pada kebutuhan biologis akan melahirkan suatu
perkawinan, yang kemudian membentuk suatu keluarga. Pembentukan keluarga akan
berkembang pada pembentukan kelompok masyarakat yang lebih luas. Di antara
anggota keluarga atau kelompok masyarakat akan terjadi ketergantungan kebutuhan
materi. Hubungan materi ini akan melahirkan kehidupan ekonomi.
Kebutuhan
ekonomi dalam suatu kelompok keluarga dilakukan biasanya melalui pembagian
kerja. Pada kelompok keluarga manusia purba, biasanya kaum laki-laki mencari
berburu ke hutan mencari binatang untuk dijadikan makanannya. Mereka berburu
secara berkelompok, dengan tujuan demi keamanan. Sedangkan kaum wanita dan
anak-anak biasanya hanya mencari makanan atau tumbuh-tumbuhan di sekitar tempat
tinggal sementara mereka.
Kehidupan
sosial dan ekonomi merupakan dua aspek kehidupan yang saling berkait.
Sebagaimana telah dikemukakan, kehidupan manusia purba mencari makanan secara
berkelompok. Dalam mencari makanan ini pun kemudian mengalami perkembangan.
Semula mereka bergantung pada alam, lambat laun mereka mengolah sumber makanan
yang disediakan oleh alam. Hal ini terjadi disebabkan sumber makanan yang
disediakan oleh alam memiliki ketersediaan yang menipis dan terbatas. Dampak
dari ini pula, manusia mengalami perkembangan dalam hal tempat tinggal. Semula,
hidupnya berpindah-pindah, kemudian menjadi menetap. Dengan demikian kehidupan
sosial ekonomi pun mengalami perubahan.
Kebutuhan
nonmateri lainnya yaitu kepercayaan. Kehidupan kepercayaan manusia pun
mengalami perkembangan. Suatu kepercayaan pada manusia, biasanya timbul
disebabkan adanya keyakinan pada diri manusia terhadapnya kekuatan-kekuatan
gaib yang menguasai kehidupan manusia. Kekuatan gaib tersebut dapat
dipersonifikasikan ke dalam benda-benda fisik yang ada di sekitarnya, misalnya
pohon, batu, bahkan juga binatang. Benda-benda tersebut dianggap keramat.
Sebagai wujud adanya kepercayaan maka lahirlah kegiatan-kegiatan ritual atau
upacara-upacara penyembahan. Upacarapenyembahan pun mengalami perkembangan
mulai dari menyembah terhadap benda-benda yang dianggap memiliki kekuatan yang
gaib, sampai dengan mempercayai adanya Dewa dan Tuhan.
1. Masa
berburu dan mengumpulkan makanan
Masa ini merupakan awal
tahapan kehidupan manusia dalam bidang kehidupan sosial ekonomi. Pada masa
berburu dan mengumpulkan makanan menghasilkan alat-alat yang digunakan untuk
menopang kehidupannya. Selain itu, pada masa ini menghasilkan pula sistem kepercayaan.
a.
Kehidupan sosial-ekonomi
Kehidupan manusia pada
masa ini, belum melakukan pengolahan terhadap sumber-sumber daya alam.
Ketergantungan manusia terhadap alam sangat tinggi, mereka memakan makanan yang
sudah disediakan oleh alam. Cara yang mereka lakukan untuk mendapat makanan
yaitu dengan berburu dan mengumpulkan makanan. Berburu dan mengumpulkan makanan
merupakan cara yang mereka lakukan untuk mempertahankan hidupnya. Apabila
persediaan makanan yang terdapat pada alam di mana mereka tinggal, maka tempat
tersebut akan mereka tinggalkan. Oleh sebab itu, kehidupan manusia pada masa
ini berpindah-pindah (nomaden), tidak memiliki tempat tinggal.
Jenis
makanan yang mereka buru adalah binatang di hutan. Selain binatang di hutan,
mereka juga di sungai, danau, atau pantai melakukan penangkapan ikan. Hasil
buruan baik binatang dari hutan maupun hasil tangkapan ikan, tidak mereka olah
menjadi masakan sebagaimana layaknya hidangan makanan sekarang. Ikan atau
daging itu, mereka bakar untuk dimakan. Pada masa ini, pengolahan makanan baru
sebatas dibakar saja, karena mereka sudah mengenal api.
Selain
memakan binatang buruan dan ikan, manusia pada masa ini sudah memakan
tumbuh-tumbuhan. Tumbuh-tumbuhan yang mereka makanan pada umumnya berupa
umbi-umbian, yang biasanya tumbuh di sekitar tempat tinggal mereka.
Tumbuh-tumbuhan itu langsung mereka makan mentah-mentah, tidak dimasak dahulu.
Mereka belum memiliki kemampuan menanak nasi.
Sebagaimana
telah dikemukakan, manusia purba hidup secara berkelompok. Hal ini mereka
lakukan pula ketika melakukan kegiatan berburu. Mereka berkelompok dengan
tujuan demi keamanan terutama dalam menghadapi serangan dari binatang buas.
Kalau dengan cara berkelompok perlindungan mereka relatif lebih aman daripada
pergi sendiri.
Hewan dan
makanan yang menjadi sumber penghidupan manusia purba, dicari pada
daerah-daerah tertentu. Untuk mendapatkan makanannya baik dari itu hewan maupun
tumbuh-tumbuhan, manusia purba hidup pada daerah-daerah tertentu yang
memungkinkan mereka mendapatkan makanan. Dengan demikian kegiatan berburu atau
mencari makanan dengan cara berpindah-pindah, bukan berarti manusia purba ini
selalu bepergian seenaknya, dengan tidak menimpati suatu tempat. Mereka tetap
menempati suatu daerah tertentu.
Kehidupan
berburu menyebabkan manusia purba harus hidup berpindah-pindah. Mereka belum
memiliki rumah sebagai tempat tinggal yang permanen.
Tempat
yang dijadikan tempat tinggal sementara adalah gua-gua. Manusia purba, memilih
tempat tinggal sementara, terutama daerah yang di sekitarnya tersedia makanan.
Misalnya mereka tinggal dekat sungai atau pantai yang mudah untuk mencari ikan,
atau hutan yang terdapat tumbuh-tumbuhan yang bisa mereka makan atau dapat
dijadikan tempat berburu binatang. Dalam berburu binatang, biasanya mereka
menyusuri sungai yang dapat dijadikan petunjuk jalan agar tidak tersesat.
Sungai mereka susuri dengan cara berjalan kaki, belum menggunakan perahu.
Sedangkan di tepian
pantai, manusia purba memakan makanan yang terdapat di pantai. Makanan yang
mereka makan adalah kerang dan ikan laut. Teknik penangkapan ikan dilakukan
dengan alat sederhana, belum menggunakan perahu atau jaring seperti sekarang.
Mereka menggunakan tombak atau kail untuk menangkap ikan.
b.
Alat-alat yang digunakan
Batu, tulang, dan kayu
merupakan bahan-bahan yang digunakan oleh manusia purba untuk membuat
alat-alat. Temuan yang dilakukan oleh para ahli, lebih banyak menemukan
alat-alat dari batu dan tulang. Hal ini mungkin disebabkan batu dan tulang
merupakan bahan yang kuat, tidak mudah lapuk. Sedangkan kayu merupakan bahan
yang mudah lapuk, sehingga para ahli tidak terlalu banyak menemukan alat-alat
yang terbuat dari kayu.
Bentuk alat-alat yang
ditemukan pada masa berburu ini masih dalam bentuk sederhana. Batu yang
digunakan masih kasar belum halus. Penemuan sejumlah alat dari batu ditemukan
oleh von Koeningwald di Pacitan pada tahun 1935. Alat yang ditemukan berupa
kapak genggam. Jenis alat ini serupa kapak tetapi tidak bertangkai. Alat ini
disebut pula dengan sebutan chopper. Penggunaan alat ini dilakukan
dengan cara digenggam. Bentuk kapak ini masih kasar, dan diperkirakan
Pithecantrhopus merupakan pendukung kebudayaan kapak genggam. Pendapat ini
didasarkan pada lapisan tempat ditemukannya kapak genggam. Kapak ini ditemukan
pada lapisan tanah yang sama dengan lapisan tanah pithecanthropus.
Kapak genggam ditemukan di
berbagai daerah di Indonesia, antara lain Pacitan, Bali, Flores, Sulawesi
Selatan, Kalimantan, dan Jawa Barat (Sukabumi dan Ciamis). Di luar Indonesia,
jenis kapak ini ditemukan di Vietnam, Filipina, Thailand, Malaysia, Myanmar,
dan Pakistan. Sezaman dengan Pithecanthropus, Sinanthropus Pekinensis
yang ada di China meninggalkan juga jenis kapak genggam.
Gambar 4.3
Chopper atau alat genggam yang
ditemukan di Pacitan
(Sumber : Marwati Djoened
Poesponegoro, Sejarah Nasional Indonesia 1, halaman 393 dan 395)
Di daerah
Ngandong dan Sidorejo ditemukan pula alat lainnya yang terbuat dari tulang.
Alat dari tulang itu banyak berasal dari tulang binatang hasil buruan. Bagian
tulang yang digunakan sebagai alat biasanya bagian tanduk dan kaki. Fungsi dari
alat ini dipergunakan untuk mengorek umbi-umbian dari dalam tanah dan mengerat
daging binatang. Tanduk atau tulang yang diikatkan pada kayu dapat berfungsi
sebagai tumbak untuk berburu binatang atau menangkap ikan.
Di daerah
lainnya, yaitu Sangiran, Sulawesi Selatan, Maumere, dan Timor ditemukan
alat-alat serpih yang dinamakan flakes. Flakes ini sangat kecil sekali
dan bentuknya ada yang seperti pisau, gurdi, atau penusuk. Diperkirakan flakes
ini digunakan untuk mengupas, memotong, atau menggali makanan.
Kalau
dikaitkan dengan kehidupan manusia purba, kebudayaan kapak genggam (chopper),
alat tulang-tulang, dan flakes ini termasuk pada peninggalan jenis manusia
Pihecanthopus Erectus. Manusia jenis ini hidup pada masa Palaeolithikum atau
zaman batu tua dengan ciri-ciri kebudayaan yang dihasilkan banyak
terbuat dari batu yang masih kasar.
c.
Sistem kepercayaan
Pada masyarakat berburu
dan mengumpulkan makanan, sistem kepercayaan pada sesuatu yang luar biasa atau
kekuatan di luar kehendak manusia, tampaknya sudah ada. Hal itu dapat diketahui
dari sisa-sisa penguburan manusia yang telah meninggal dunia. Dengan demikian,
mereka percaya, bahwa ada suatu kehidupan lain setelah mati.
2. Masa
bercocok tanam
Kehidupan manusia setelah
masa berburu dan mengumpulkan makanan adalah masa bercocok tanam. Bagaimanakah
proses perkembangan dari masa berburu dan mengumpulkan makanan ke bercocok
tanam?
5.
Kehidupan sosial-ekonomi
Kehidupan manusia
senantiasa mengalami perkembangan. Perkembangan itu dapat disebabkan karena ada
interaksi antara manusia dengan manusia dan manusia dengan alam. Ketika
kebutuhan hidup manusia terpenuhi oleh alam, manusia tidak perlu susah-susah
membuat dan mengolah makanan. Manusia cukup mengambil dari alam, karena alam
banyak menyediakan kebutuhan manusia, terutama makanan. Makanan itu antara lain
buah-buahan dan binatang buruan. Kehidupan awal manusia sangat tergantung dari
alam.
Ketika alam sudah tidak
dapat mencukupi kebutuhan hidup manusia, yang disebabkan populasi manusia
bertambah dan sumber daya alam berkurang, maka manusia mulai memikirkan
bagaimana dapat menghasilkan makanan. Manusia harus mengolah alam. Pada masa
ini kehidupan manusia berkembang dengan mulai mengolah makanan dengan cara
bercocok tanam.
Karena manusia sudah
beralih pada tingkat kehidupan bercocok tanam, maka pola hidupnya tidak lagi
nomaden atau berpindah-pindah. Manusia sudah mulai menetap di suatu tempat,
yang dekat dengan alam yang diolahnya. Binatang buruan pun sudah ada yang mulai
dipelihara. Dengan demikian, bercocok tanam dan beternak sudah berkembang pada
masa ini.
Alam yang dipakai untuk
bercocok tanam adalah hutan-hutan. Hutan itu ditebang, dibersihkan, kemudian
ditanami dengan tumbuh-tumbuhan, buah-buahan, atau pepohonan lainnya yang
dibutuhkan oleh manusia atau masyarakat. Cara yang mereka lakukan masih sangat
sederhana. Berhuma
merupakan
cara bercocok tanam yang sangat sederhana. Karena berhuma memerlukan tempat
yang subur, maka ketika tanah itu sudah tidak subur, mereka akan mencari daerah
baru. Dengan demikian hidup mereka berpindah ke tempat baru untuk waktu
tertentu, dan begitu seterusnya.
b.
Alat-alat yang dihasilkan
Peralatan pada masa
bercocok tanam masuk pada zaman mesolithikum (zaman batu pertengahan) dan
neolithikum (zaman batu muda). Namun demikian alat-alat yang dihasilkan pada
masa berburu dan mengumpulkan makanan atau zaman palaeolithikum tidak
ditinggalkan. Alat-alat itu masih dipertahankan dan dikembangkan, seperti
alat-alat dari batu sudah tidak kasar lagi tapi sudah lebih halus karena ada
proses pengasahan.
Berikut ini alat-alat atau
benda-benda yang dihasilkan pada masa bercocok tanam.
1) Kjokkenmoddinger
Sebagaimana dijelaskan
sebelumnya, bahwa pada masa bercocok tanam, manusia purba sudah tinggal
menetap. Salah satu bukti adanya sisa-sisa tempat tinggal itu ialah kjokkenmoddinger
(sampah-sampah dapur). Istilah ini berasal dari bahasa Denmark (kjokken =
dapur, modding = sampah).
Penemuan kjokkenmoddinger
yang ada di pesisir pantai Sumatera Timur menunjukkan telah adanya penduduk
yang menetap di pesisir pantai. Hidup mereka mengandalkan dari siput dan
kerang. Siput-siput dan kerang-kerang itu dimakan dan kulitnya dibuang di suatu
tempat. Selama bertahun-tahun, ratusan tahun, atau ribuan tahun, bertumpuklah
kulit siput dan kerang itu menyerupai bukit. Bukit kerang inilah yang disebut
kjokkenmoddinger.
Di tempat kjokkenmoddinger
ditemukan juga alat-alat lainnya, seperti pebble (kapak genggam yang
sudah halus), batu-batu penggiling beserta landasannya, alat-alat dari
tulang belulang, dan pecahan-pecahan tengkorak.
Selain Kjokkenmoddinger,
jenis tempat tinggal lainnya ialah abris sous rosche, yaitu tempat
berupa gua-gua yang menyerupai ceruk-ceruk di dalam batu karang.
Peralatan yang ditemukan berupa ujung panah, flakes, batu-batu penggiling, dan
kapak-kapak yang sudah diasah. Alat-alat itu terbuat dari batu. Ditemukan juga
alat-alat dari tulang dan tanduk rusa. Tempat ditemukannya abris sous
rosche, antara lain Gua Lawa di Ponorogo, Bojonegoro, dan Lamoncong
(Sulawesi Selatan).
3) Gerabah
Penemuan gerabah merupakan
suatu bukti adanya kemampuan manusia mengolah makanan. Hal ini dikarenakan
fungsi gerabah di antaranya sebagai tempat meyimpan makanan. Gerabah merupakan
suatu alat yang terbuat dari tanah liat kemudian dibakar. Dalam perkembangan
berikut, gerabah tidak hanya berfungsi sebagai penyimpan makanan, tetapi
semakin beragam, bahkan menjadi barang yang memiliki nilai seni.
Cara pembuatan gerabah
mengalami perkembangan dari mulai bentuk yang sederhana hingga ke bentuk yang
kompleks. Dalam bentuk yang sederhana dibuat dengan tidak menggunakan roda.
Bahan yang digunakan berupa campuran tanah liat dan langsung diberi bentuk
dengan menggunakan tangan. Teknik pembuatan semakin berkembang, pencetakan
menggunakan roda, agar dapat memperoleh bentuk yang lebih baik bahkan lebih
indah. Dalam perkembangan ini, pencetakan sudah memiliki nilai seni. Sisi
gerabah mulai dihias dengan pola hias dan warna. Hiasan yang ada di antaranya
hiasan
anyaman. Untuk membuat hiasan yang demikian yaitu dengan cara menempelkan agak
keras selembar anyaman atau tenunan pada gerabah yang masih basah sebelum
gerabah dijemur. Kemudian gerabah dijemur sampai kering dan dibakar.
Berdasarkan bukti ini, para ahli menyimpulkan bahwa pada masa ini manusia sudah
mengenal bercocok tanam dan orang mulai dapat menenun.
4) Kapak persegi
Pemberian nama kapak
persegi didasarkan pada bentuknya. Bentuk kapak ini yaitu batu yang garis
irisannya melintangnya memperlihatkan sebuah bidang segi panjang atau ada juga
yang berbentuk trapesium. Jenis lain yang termasuk dalam katagori kapak persegi
seperti beliung atau pacul untuk yang ukuran besar, dan untuk ukuran yang kecil
bernama tarah. Tarah berfungsi untuk mengerjakan kayu. Pada alat-alat tersebut
terdapat tangkai yang diikatkan. Orang yang pertama memberikan nama Kapak
Persegi yaitu von Heine Geldern.
Daerah-daerah tempat ditemukannya
kapak persegi yaitu di Sumatra, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Maluku, Sulawesi,
dan Kalimantan. Batu api
dan samping
|
dan chalcedon merupakan bahan
yang dipakai untuk membuat kapak persegi. Kapak persegi kemungkinan sudah
menjadi barang yang diperjualbelikan. Alat ini dibuat oleh sebuah pabrik
tertentu di suatu tempat kemudian di bawa keluar daerah untuk diperjualbelikan.
Sistem jual-belinya masih sangat sederhana, yaitu sistem barter. Adanya sistem
barter tersebut, kapak persegi banyak ditemukan di tempat-tempat yang tidak
banyak ada bahan bakunya, yaitu batu api.
5) Kapak lonjong
Pemberian
nama kapak lonjong ber-dasarkan pada bentuk. Bentuk alat ini yaitu garis
penampang memperlihatkan sebuah bidang yang berbentuk lonjong. Sedangkan bentuk
kapaknya sendiri bundar telor. Ujungnya yang agak lancip ditempatkan di tangkai
dan di ujung lainnya yang bulat diasah hingga tajam. Ada dua ukuran kapak
lonjong yaitu ukuran yang besar disebut dengan walzeinbeil dan kleinbel
untuk ukuran kecil. Kapak lonjong masuk ke dalam kebudayaan
Neolitihikum Papua, karena jenis kapak ini banyak ditemukan di Papua (Irian).
Kapak ini ditemukan pula di daerah-daerah lainnya, yaitu di Seram, Gorong,
Tanimbar, Leti, Minahasa, dan Serawak.
Selain di
Indonesia, jenis kapak lonjong ditemukan pula di negara lain, seperti
Walzeinbeil
di temukan di Cina dan Jepang, daerah
Assam dan Birma Utara. Penemuan kapak lonjong dapat memberikan petunjuk
mengenai penyebarannya, yaitu dari timur mulai dari daratan Asia ke Jepang,
Formosa, Filipina, Minahasa,
terus ke timur. Penemuan-penemuan di
Formosa dan Filipina memperkuat pendapat ini. Dari Irian daerah persebaran
meluas sampai ke Melanesia.
7) Pakaian
Kebudayaan lainnya yang
dimiliki oleh manusia pada masa bercocok tanam diperkirakan mereka telah
memakai pakaian. Bahan yang digunakan untuk pakaian berasal dari kulit kayu.
Daerah tempat ditemukan bukti adanya pakaian adalah di Kalimantan, Sulawesi
Selatan, dan beberapa tempat lainnya. Pada daerah-daerah tersebut ditemukan
alat pemukul kulit kayu. Kulit kayu yang sudah dipukul-pukul menjadi bahan
pakaian yang akan dibuat.
Sebagaimana telah
dikemukakan bahwa manusia pada zaman berburu dan mengumpulkan makanan sudah
mengenal kepercayaan. Kepercayaan manusia ini mengalami perkembangan. Pada masa
berburu dan mengumpulkan makanan kepercayaan baru sebatas adanya penguburan.
Kepercayaan ini kemudian berkembang pada masa bercocok tanam dan perundagian.
Bukti peninggalan kepercayaan pada masa bercocok tanam yaitu ditemukannya
bangunan-bangunan batu besar yang berfungsi untuk penyembahan. Zaman penemuan
batu-batu besar ini disebut dengan zaman megalithikum.
Bangunan-bangunan batu
yang dihasilkan pada zaman megalithikum antara lain sebagai berikut.
1) Menhir
Menhir merupakan tiang atau tugu batu yang dibuat untuk
menghormati roh nenek moyang. Daerah-daerah tempat ditemukannya menhir di
Indonesia, seperti di Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sumatra Selatan,
Sulawesi Tengah, Kalimantan, dan Bali.
2) Sarkofagus
Sarkofagus menyerupai peti mayat atau keranda yang bentuknya seperti palung
atau lesung, tetapi mempunyai tutup. Benda ini terbuat dari batu sehingga diperkirakan
kehadiran sarkofagus sezaman dengan zaman megalithikum (zaman batu besar).
Adanya sarkofagus ini menandakan kepercayaan pada waktu itu, bahwa orang yang
meninggal perlu dikubur dalam peti mayat. Di daerah Bali, sarkofagus ini banyak
ditemukan.
3) Dolmen
Tempat lain untuk
melakukan pemujaan pada arwah nenek moyang pada waktu itu ialah Dolmen.
Dolmen ini terbuat dari batu besar yang berbentuk meja. Meja ini berkaki yang
menyerupai menhir. Dolmen berfungsi
sebagai
tempat sesaji dalam rangka pemujaan kepada roh nenek moyang. Di beberapa
tempat, dolmen berfungsi sebagai peti mayat, sehingga di dalam dolmen terdapat
tulang belulang manusia. Sebagai bekal untuk yang meninggal, di dalam dolmen
disertakan benda-benda seperti periuk, tulang dan gigi binatang, dan alat-alat
dari besi.
4) Kubur batu
Selain dolmen dan
sarkofagus, ditemukan juga kubur batu yang fungsinya sebagai peti mayat.
Bedanya ialah kubur batu ini dibuat dari lempengan batu, sedangkan dolmen dan
sarkofagus dibuat dari batu utuh. Di daerah Jawa Barat, penemuan kubur batu
banyak ditemukan.
Waruga adalah kubur batu
berbentuk kubus atau bulat. Bentuknya sama seperti dolmen dan sarkofagus, yaitu
dibuat dari batu yang utuh. Di Sulawesi Tengah dan Utara banyak ditemukan
waruga.
6) Punden berundak-undak
Bangunan lainnya yang
dihasilkan pada zaman megalithikum adalah punden berundak-undak. Bangunan ini
berfungsi sebagai tempat pemujaan yang berupa batu tersusun secara
bertingkat-tingkat. Di tempat punden berundak-undak biasanya terdapat menhir.
Daerah ditemukannya punden berundak-undak antara lain di Lebak Sibedug (Banten
Selatan) dan Ciamis (Jawa Barat).
7) Arca
Arca ini terbuat dari batu
yang berbentuk patung binatang atau manusia. Tempat ditemukannya arca-arca
antara lain di Jawa Tengah, Jawa Timur, Lampung, dan Sumatera Selatan.
Keberadaan
awal manusia di Indonesia tidak lepas dari keberadaan awal manusia di muka
bumi. Manusia pertama kali hidup di muka bumi ketika bumi sudah mengalami
perubahan-perubahan secara fisik dan alami. Ketika perubahan bumi mulai stabil,
manusia mulai menempatinya yaitu pada zaman kwarter. Kehidupan manusia di bumi
harus menyesuaikan diri dengan lingkungan alam sehingga terjadilah evolusi
dalam kehidupan manusia baik secara fisik maupun nonfisik. Kemampuan manusia
dalam beradaptasi dengan alam berakibat terjadinya perkembangan kehidupan
manusia. Adaptasi manusia terhadap alam, melahirkan berbagai teknologi yaitu
alat-alat yang dijadikan manusia untuk membantu hidupnya dalam beradapatasi
dengan alam. Teknologi atau peralatan manusia mengalami perkembangan mulai dari
yang sederhana sampai dengan yang kompleks. Perkembangan kehidupan manusia
dalam hubungan dengan alam mulai dari manusia tergantung terhadap alam sampai
dengan kemampuan mengolah alam.
Jawablah pertanyaan di bawah ini dengan singkat dan jelas!
1.
Kapan dan bagaimana
perubahan-perubahan yang terjadi pada bumi dan apa kaitannya dengan munculnya
makhluk-makhluk hidup!
2.
Bagaimana
perubahan-perubahan yang terjadi dalam pembuatan hasil-hasil kebudayaan mulai
dari zaman berburu dan mengumpulkan makanan hingga zaman perundagian?
3.
Mengapa pada zaman
perundagian manusia sudah memiliki kehidupan menetap secara permanen?
4.
Bukti-bukti apa yang
menunjukkan bahwa pada zaman perundagian manusia di Indonesia sudah memiliki
hubungan dengan daerah luar?
5.
Kebudayaan Dongson
menunjukkan bahwa Indonesia memiliki jalinan dengan negara lain. Bukti-bukti
apakah yang mendukung pernyataan itu?
pak kerennnn....permadi
BalasHapussusah..fahrudin
BalasHapusLufianto..pak klo ngirimnya hari minggu bisa gax pak warnet gangguan pak..
BalasHapusPak ngirimnya hari minggu gakpapakan pak
BalasHapusPak ngirimnya hari minggu gakpapakan pak
BalasHapusPak ngirimnya hari minggu gakpapakan pak..
BalasHapusPak ngirimnya hari minggu gakpapakan pak..
BalasHapusPak hari mingguya girimnya
BalasHapusPak hari mingguya girimnya
BalasHapusaminullah.... susah pak
BalasHapusBagi yg mau internetan area SKPE?Silahkan datang ke Desa Arga Mulya di sediakan hotspot area hanya Rp.5.000 internet an sepuasnya. Lokasi di dekat kantor desa sebelah KUD E4 ato hub 085246924745. Buka dari pukul 15.00 s/d 19.00 WIB..
BalasHapusmaaannnntttaaaapppppppp pakkkkkk.....
BalasHapussetyo budi santoso
1. Pada masa arkeolitikum di bumi belum ada tanda – tanda kehidupan. Masa palaeozoikum disebut juga sebagai zaman kehidupan purba, karena pada masa ini diperkirankan mulai adanya makhluk hidup di bumi ini. Masa mesozoikum disebut juga dengan zaman kehidupan madya. Masa kenozoikum dikenal juga dengan zaman kehidupan muda karena masa termuda dalam usia bumi dan masih berlaku sampai sekarang ini. Keberadaan manusia ini mulai pada zaman kwarter. Hal ini dibuktikan dengan di temukannya fosil – fosil manusia yang diperkirakan usia berada pada kala plestosen. Pada plestosen awal di temukan fosil pitcheanthropus mojokertensis yang usianya diperkirakan 1,9 juta tahun. Fosil Meganthropus paleojavanicus yang di temukan di daerah sangiran usianya antara 1-2 juta juga diperkirakan hidup pada zaman kwarter pada kala plestosen awal.
BalasHapus2. Pada masa berburu dan mengumpulkan makanan sangat membutuhkan SDA yang tinggi manusianya NOMADEN. Jenis makan yang mereka buru adalah binatang di hutan dan di lautan. Selain daging mereka juga memakan tumbuh – tumbuhan berupa umbi dan untuk berburu mereka mengunakan alat batu, tulang, dan kayu karena sifatnya kuat. Contoh nama alatnya adalah Kapak Genggam di temukan di berbagai daerah di Indonesia, antara Pacitan, Bali, Flores, Sulawesi Selatan, Kalimantan,dan Jawa Barat(Sukabumi dan Ciamis). Di luar Indonesia jenis kapak ini ditemukan di Vietnam, Filipina, Thailand, Malaysia, Myanmar, dan Pakistan. Flakes di temukan di daerah Sangiran, Sulawesi Selatan, Maumere, dan Timor. Pada masa perundingan sudah menetap. Salah satu bukti adanya sisa – sisa tempat itu ialah Kjokkenmoddinger (sampah-samapah dapur). Istilah ini berasal dari bahasa Denmark(Kjokken = dapur, Modding= Sampah). Kjokkenmoddinger di temukan di Sumatera Timur di persisir pantai. Di tempat Kjokkenmoddinger di temukan juga alat-alat lainnya seperti dari tulang belulang dan pecahan tengkorak. Di zaman perundingan alat-alat atau benda yang digunakan adalah Kjokkenmoddinger, Abri Sous Rosche, Gerabah, Kapak Persegi, Kapak Lonjong, dan pakaian. Konsep kepercayaannya dan bangunan megalit adalah Menhir, Sarkofagus, Dolmen, Kubur Batu, Waruga, Pundek Berundak-Undak, dan Arca.
3. Karena manusia di zaman perundingan mengalami perkembangan. Karena kebutuhan hidup manusia dapat terpenuhi oleh alam. Dengan pemikiran yang mulai berkembang, manusia mulai bercocok tanam untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka.
4. Kapak Lonjong yang di temukan di negara Cina dan Jepang.
5. - Budaya logam awal di jawa
- Budaya logam awal di sumatera
- Budaya logam awal di Sumba, Nusa Tenggara
- Budaya logam awal di Bali.
Jawaban dari TRI OKTAVIANI N.E. ASSAN ( Kls. X.a )
Riska SN_ "laksanakan tugass"
BalasHapusbelajar itu harus
BalasHapus